Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Diri. Tampilkan semua postingan

Belajar dari Birrul Qodriyah

|| || , || 1 komentar
Kemiskinan bukanlah beban, bayak kisah orang-orang yang maaf, bisa dikatan kekurangan saja dapat kita teladani alur kehidupannya. Alur kehidupannya hingga sampai menjadi pribadi yang patut dicontoh. Mekipun jalan yang harus ditempuh tidak selalu mulus melainkan panjang dan berliku, cukup relevan menjelaskan arti perjuangan sebenarnya untuk mencapai sebuah tujuan yang disebut kebahagiaan. Kebahagiaan tidak dapat diukur oleh apapun; uang, kepintaran atau hal apapun lainnya. Seperti cerita berikut: 

JAKARTA, KOMPAS.com - Kisah perjuangan Birrul Qodriyah, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam meraih impiannya menjadi dokter pantas diacungi jempol. Terlahir dari orangtua yang "hanya" bekerja sebagai buruh tani, Birrul tak pernah patah arang meraih cita-citanya.

Kisah Birrul yang penuh haru ini sampai membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyeka air matanya dalam acara silaturahmi mahasiswa Bidik Misi di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (27/2/2014).

Birrul mewakili ratusan mahasiswa peraih beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyampaikan testimoni. Birrul bercerita, sejak kecil dia rajin belajar dan hidup sederhana bersama orangtuanya yang merupakan buruh tani.

"Orangtua saya bukan hanya petani, tapi lebih dari itu, mereka buruh tani. Sekali menanam hanya mendapat uang Rp 5.000," ujarnya dengan suara bergetar.

Birrul muda hidup serba pas-pasan. Beranjak dewasa hingga menjelang lulus jenjang SMA, Birrul mengaku bimbang untuk menyatakan keinginannya menempuh ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Impiannya menjadi dokter selalu dituliskan Birrul dalam sebuah catatan yang ditempel di dinding.

"Orang-orang tertawa, untuk apa anak petani bercita-cita menjadi dokter? Pasti tidak akan bisa," katanya.

Namun, Birrul memberanikan diri menyatakan keinginannya kuliah kedokteran kepada orangtuanya. "Saya bilang saya mau melanjutkan kuliah, tidak ada jawaban apa pun dari bapak ibu. Saya lihat pas Subuh, bapak hanya mengayuh sepeda. Saya tahu mereka tidak punya uang," tutur Birrul lirih sambil menahan air mata.

Semenjak itu, Birrul pun bertekad untuk menjadi siswa berprestasi dan mendapatkan beasiswa. Akhirnya, Birrul mendapat bantuan beasiswa Bidik Misi untuk siswa miskin berprestasi. Kini, Birrul tengah menjalani tugas profesi di FK UGM. Birrul berterima kasih.

"Kami tidak akan gunakan beasiswa ini dengan biasa-biasa saja. Kami akan jadi mahasiswa berkualitas dan siap menjadi generasi emas," papar Birrul berapi-api.

"You got a dream, you gotta protect it. People can't do something themselves, they wanna tell you that you can't do it. You want something? Go get it. Period." ~ The Pursuit Of Happynes~ Jika kalian punya impian jaga impian itu, tidak peduli apa yang orang lain katakana tentang dirimu bahwa kamu tidak bisa meraihnya. Tapi yakin kamu bisa melakukannya, lakukan dan dapatkan itu. Jika anda menginginkan sesuatu, kejar dan dapatkan.

Lalu apa yang kurang dari kita? Apa yang salah dari kita? sehingga kita hanya sampai pada hal ini. Semoga dapat dijadikan sebagai bahan renungan, motivasi siang, motivasi sore atau apalah yang patut kalian sebut.  Salam santun ^_^

Meletusnya Gunung Kelud, Musibah ataukah Berkah

|| || ,, || Leave a komentar
Masih teringat jelas di benak kita, bebrapa hari atau beberapa minggu yang lalu Gunung Sinabung di Sumatera Utara meletus, banjir di mana-mana Jakarta, Purworejo, Kendal, dll. Dan saat ini bencana datang kepada kita lagi, kali ini Gunung kelud. Setelah tujuh tahun tidur, Gunung Kelud bangun dan menunjukkan aktivitasnya (meletus) pada pukul 22.50, Kamis 13 Februari 2014. Letusan masih terus terjadi hingga Jumat dini hari. Bahkan suara dentumannya dapat terdengar hingga beberpa daerah Provinsi Jateng dan DIY.

Kelud yang berada di tiga kabupaten di Jawa Timur: Kediri, Blitar, dan Malang, menyemburkan kerikil dan debu di kota-kota itu. Dengan ketinggian abu vukanik yang hingga belasan kilo meter membuat abu bertebaran hingga jarah ratusan meter. 

Yogyakarta melalui Gubernurnya mengintruksikan tanggap bencana selama sepekan, bandara Adisucipto menghentikan aktifitasnya, sekolah-sekolah diliburkan, universitas dan lainnya. Tidak heran aktivitas gunung ini membuat sepi jalanan. Masyarakat lebih memilih berdiam diri di rumah ketimbang harus pergi keluar rumah dengan kondisi jalanan yang berdebu dan jalanan yang licin.

Jika kita kilas balik kebelakang, dampak letusan Gunung Kelud sendiri dirasa lebih parah ketimbang letusan Merapi dulu. Mungkin saja karena kita lebih dekat dengan Merapi sehingga tidak begitu banyak abu vulkanik yang kita rasakan.

Lalu, apakah yang telah terjadi ini adalah musibah ataukah berkah? Banyak orang, banyak sekali malahan yang menganggap semua ini adalah bencana belaka. Kembali kepada diri masing-masing. Segala sesuatu terjadi atas kehendakNya, pastilah ada hikmah dibalik semua ini.

Doakan saja semua akan baik-baik saja. Bencana bukan semata mata bencana, alam membuntuhkan tindakan untuk menuju keseimbangannya. Semoga semua berada dalam lindunganNya. Menjadikan kita semua untuk lebih mengintrospeksi diri, menambah iman kita kepada Allah SWT. Memotivasi kita untuk lebih giat beribadah, mengingat bahwa kehidupan ini adalah sementara menuju kehidupan yang lebih kekal kelak. Aamiin

Kesepakatan yang Membentuk Persepsi

|| || || Leave a komentar
1+1=2 , apakah ada jawaban lain selain 2 ?
Bagi anak SD tingkat satu mungkin jawabannya "tidak"
setelah beberapa waktu belajar anak akan mengetahui bahwa ada jawaban lain , misalnya "3 - 1" atau "5 - 3"
Bila anak itu belajar dan terus bertumbuh, ia akan menyadari bahwa jumlah "2" itu hanyalah sebuah kesepakatan antar manusia belaka.
Dan dikala anak tersebut mempelajari teori Quantum maka ia akan mendapati jawaban dengan jumlah tak terhingga pada pertanyaan yang terlihat simpel itu.

Begitulah pertumbuhan pengetahuan ini, begitu juga pertumbuhan kesadaran diri ini. Awalnya seorang anak melihat apa adanya, sebelum kita menamai burung, ia melihat benda yang kita cap dengan nama burung itu apa adanya. Ketika perangkap label kita tanamkan pada anak itu bahwa benda yang berkaki dua dan bersayap itu adalah bernama burung, ia kehilangan realita, disaat itu juga ia hanya melihat persepsi.

Anak SD kelas 1 mati-matian mempertahankan apa yang diyakininya, dengan membawa dua buah pensil ia menjelaskan bahwa 1 pensil + 1 pensil = 2 pensil. Ia hanya mengetahui bahwa hanya ada satu jawaban benar. Anak SD kelas 3 mungkin akan merasa hebat dan lebih tahu lalu dengan sombongnya menyalahkan pemikiran adik kelasnya dan membuktikan bahwa ada jawaban lain selain yang satu-satunya itu. Anak SMP mungkin mentertawakan tingkah laku anak SD kelas tiga tersebut, namun ia mungkin belum paham bahwa semua angka itu adalah sebuah bentuk kesepakatan dunia dan itu memang telah tertanam dalam-dalam di benak kita semua. Keyakinan yang tertanam ini seringkali telah membatu dengan kerasnya sehingga tidak jarang bergesekan atau berbenturan dengan kerasnya.
 
Kita mendebatkan baik-buruk dan melupakan bahwa itu bukanlah realita, semua adalah kesepakatan yang membentuk persepsi.
Meludah yang dicaci di sebuah negara, dihormati dinegara lain.
kita bunuh membunuh karena persepsi.
Tahukah kita bahwa cantik dan buruk rupa adalah bentukan dari lingkungan ?
sexy ditahun ini adalah sexy yang mungkin bertolak belakang dengan sexy dijaman Cleopatra.

Lalu apa yang benar-benar BENAR?
Tatkala kita masih merasa putih, hebat, benar atau suci dan melihat yang lain salah, kurang benar atau tidak betul artinya kita masih bermain di kolam yang dangkal.

Tujuan manusia bukan sebatas mencari kebenaran, namun melewati gerbang dualitas, terbang tinggi ketempat dimana hitam dan putih menjadi serupa.
 
Dalam skala persentase, spektrum yang mampu kita jangkau di alam semesta ini melalu panca indra kita adalah kurang dari 1 persen, jadi bila selama kita masih mengandalkan kemampuan berpikir kita dengan cara menganalisa, menginterpretasi, memberi label, menghakimi atau menuduh maka akan sulit melihat realita yang ada.

Lihatlah gambar dibawah, siapa yang bisa langsung meyakini bahwa warna di kotak A sama persis dengan warna yang terdapat di kotak B?
dari hal sepele seperti ini sekalipun kita bisa membuktikan kelemahan dari mata yang sering kita agungkan sebagai Indra utama dalam tubuh ini.

Ia yang sadar adalah Ia yang telah jauh terbang meninggalkan perangkap penghakiman.
Tidak ada yang salah dengan anak SD begitu juga dengan anak SMP, Ia sadar bahwa setiap orang bertumbuh.
Ia tidak melekat pada keinginan, pujian atau makian.
Yang baik tidak digenggam, yang buruk tidak ditolak.
Ia menyadari semua yang terjadi berasal dari NYa dan atas seijin Nya.
Malaikat diciptakan Tuhan, Setanpun diciptakan oleh Tuhan yang sama.

TS Eliot pernah berkata “Kita tidak boleh berhenti menjelajah dimana akhir dari semua penjelajahan tersebut akan tiba di tempat di mana kita memulai dan baru menyadari tempat tersebut untuk pertama kalinya.”

Mari kita bertumbuh bersama, sahabat yang menyenangkan adalah berkah, sahabat yang menyulitkan adalah berkah. biarkan ia menemani kita untuk bertumbuh sampai suatu saat kita kembali kepada pandangan pertama kali kita dilahirkan, melihat apa adanya.

Karena semua memang sudah sempurna adanya.

Gobind Vashdev
Namaste _/|\_

Please Share

Indahnya Kehidupan (Full)

|| || ,, || Leave a komentar
Hari mulai senja, para petani mulai kembali dari ladang setelah seharian bergelut dengan lumpur dan gatalnya persawahan. Berlomba, bergegas tiba lebih dahulu mendahulu gerimis yang kian membesar. Seorang anak kecil 3 tahunan didepan seorang nenek, ia nampak begitu riang menikmati indahnya ladang pedesaan yang hendak ditanami padi.

Hari itu menjadi hari yang berbeda dan mungkin spesial buat seorang suami yang sudah sekian lama tidak bertemu dengan istrinya. Terdengar kabar bahwa instrinya telah menunggunya dirumah setibanya ia dari Arab Saudi. Gerimis mulai reda, rumah sang buruh tani itu mulai ramai dengan riuh tetangga yang berdatangan. Riuh bahagia menyambut tetangganya yang telah sekian lama pergi merantau di negeri orang. Si kecil heran dan ketakutan, siapa gerangan wanita itu yang datang kerumahnya. Dengan dandanan yang bagus dan wangi. Si kecil bersembunyi dibalik neneknya. Wanita itu menghampirinya menanyakan kabar si kecil, memeluk dan menciuminya. Seketika sikecil meronta, menangis dan ketakutan. “Siapa wanita itu berani mencium dan memeluku erat? “, kata si kecil dalam hati.

Hari kian larut, suasana kian sayup. Senja pedesaan kian redup bergantikan hening dan pekatnya malam  kala itu yang masih langka listrik. Waktu berlalu dan malam berganti. Si kecil mulai paham bahwa wanita yang semalam memeluk dan menciumnya itu ialah ibunya. Wanita yang telah melahirkannya, wanita yang berjuang keras demi dia dan kakak perempuannya. Hari ini berbeda, ia menikmati keluarganya yang utuh bapak, ibu dan kakak. Suasana yang amat menyenangkan baginya. Tawa riang sering muncul dari mulut mungilnya. Indah dan pasti akan sangat mudah bagi siapa saja yang mengalaminya akan tetap merindukannya kelak. Sayang kebahagiaan itu hanya sesaat, sang ibu pasti akan segera kembali ke perantauannya.

Hari berganti minggu, minggu berganti dan seterusnya. Tiba saatnya si kecil berpisah kembali dengan wanita yang nampak asing dulu baginya. Hari perpisahan telah datang, nampak wajah murung di wajahnya. Terlukis jelas bahwa ia tidak rela, suasana keluarga, harum tubuh ibu dan kasih sayangnya yang akan amat sangat ia rindukan. Suasana haru pekat menyelemuti kedua orang tersebut. Telah tiba waktunya untuk berpisah kembali. Wanita itu memutuskan untuk kembali merantau, keadaan ekonomi kian sulit. Sang suami tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka sekeluarga.

Beberapa tahun berlalu. Si kecil telah  berumur 4 tahun, dan hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Bahagianya melebihi hari lebaran, baju baru, sepatu baru, tas baru, dan bahkan ia akan menemukan teman-teman baru, cukup untuk menghapus bayang rindunya akan wanita yang ia takuti beberapa tahun lalu. Belum lama ia tiba di sekolah dangan wajah polos ia berkata pada kakaknya “mbak ayo mulih?” (kak ayo pulang). Yah itulah hari pertamanya ia sekolah, maklum saja ia adalah murid termuda. Murid titipan karena saat itu belum ada TK negeri atau TK Islam, hanya ada TK Seruni (TK untuk Kristen). Si kecil harus belajar 1 tahun lebih lama dari temannya dan tanpa raport hasil studynya. Tidak ada apapun kecuali masuk dan belajar, karena statusnya ialah murid titipan meski sama-sama belajar dengan teman2nya.

Singkat cerita perekonomian keluarga si kecil kian memburuk, banyak terjadi cekcok dalam keluarganya. Pertengkaran antara anggota keluarga besarnya hampir mudah ditemui di kesehariannya. Saat itu adik dari ayahnya marah besar karena makanan yang tersedia didapur tidak memuaskannya. Tak sengaja ia lewat didepannya dan krumpyang… piring jatuh,namun lebih dulu telah mengenai pelipis keningnya. Menjadi luka yang tidak akan hilang hingga si kecil dewasa nanti. Darah mengucur, panik dan kawatir menjadi satu. Keluarganya ialah keluarga yang serba kekurangan, bahkan untuk mengobati lukanya tidak perlu dokter. Cukup kain bersih dan obat luka saja.“Ibu, hanya engkau saat ini yang aku butuhkan. Sayangmu yang akan mampu mengobati rasa perih luka ini”, khayalnya dalam hati. Waktu berjalan cepat, kelas satu sudah terlewat, tahap demi tahap jenjang SD terlampaui. Tiba di kelas 3 SD menjadi jenjang terberat bagi si keci, salah satunya ia harus melihat orang tuanya bercerai, orang tuanya telah memutuskan untuk berpisah. Hari hari terlihat berat tanpa ibunya, nakal mungkin menjadi hal wajar untuk mencari perhatian dari orang yang lebih tua di keluarganya. Pukulan demi pukulan menjadi hal yang biasa ia terima dari ayahnya, hadiah dari tiap kenakalannya. Keluarga kecilnya tidak lah harmonis, tidak juga dengan anggota keluarga besarnya.

Banyak hal yang akan berubah setelah berpisahnya orang tua mereka, ibu tiri yang seremnya mirip di sinetron–sinetron sampai neraka yang pindah ke bumi yang tiba-tiba hadir di keluarganya. Kehidupannya jauh untuk dikatakan sempurna, juga tidak bisa dikatakan bahagia. Ibu tiri yang membencinya menjadi santapan tiap kesehariannya. Lagi-lagi ibu, yang ia rindu. “Ingin rasanya dapat bertemu bercengkerama dalam peluknya” khayalnya lagi. Setahun yang lalu ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Andaikan si kecil telah pandai berbicara mungkin ia tidak akan mengijinkan ayahnya menikah dengan wanita itu. Bukan hal mudah karena perhatian ayahnya hilang, bahkan ibunya tidak kunjung pulang untuk sekedar menengoknya, melepaskan rindunya. 

Keluarga ialah tonggak dari pendidikan seorang anak, benar saja karena sebagian waktu sang anak ialah di lingkungan keluarga. Baik buruknya lingkungan keluarga akan mempengaruhi setiap pendidikan sosialnya. Waktu berlalu, tepat di kelas 4. Ibunya memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya Indonesia. Rasa bahagia sudah jelas terpancar diwajah manis si kecil. Namun, sayang kebahagian kecil itu terganggu oleh operasi amandel yang telah ia derita sejak ia kecil. Penyakit itulah yang sering buatnya sakit-sakitan dulu. Neneknyalah yang merawatnya sejak kecil. Si kecil memang lebih senang tinggal bersama neneknya ketimbang keluarganya. Keadaan seperti inilah yang membuat si kecil menjadi anak yang pendiam jarang bergaul dengan teman seumurannya. 

Tahun demi tahun berlalu kini ia harus lebih membiasakan diri mendewasa tanpa kasih sayang keluarga selayaknya anak-anak lain seumuranya. Kini ia sudah bukan murid SD lagi, ia memasuki lingkungan SMP dengan suasana dan teman baru yang berasal dari daerah yang berbeda-beda tentunya. Ia termasuk siswa yang pandai meski pandainya hanya 1 semester, si kecil pernah mendapat rangkin 2 dikelas. Namun sanyangnya itu hanya sekali dan disemester-semester berikutnya nol, alias tidak dapat peringkat sama sekali. Ia masih ingat betul dulu saat ia masih memakai seragam putih merah ibunya pulang dua kali yaitu kelas 2 dan 4. Kini SMP ia hanya bertemu sekali yaitu kelas 1. Kini menjadi hal yang biasa dan tidak istimewa lagi ketika ibunya pulang dari tanah rantau karena ia pasti pergi tidak lama lagi.

Kesusahan tidak kunjung pudar dari kehidupannya. Serasa satu hilang, datang satu lagi kesusahan yang lain. Waktu menunjukkan pukul 12, seseorang yang tidak asing dari kampungnya datang menghampirinya. Mengajaknya pulang, tidak banyak fikir ia menurut saja. Ia sudah bisa menebak pasti ada sesuatu dengan neneknya, neneknya telah dirawat di ICU beberapa hari karena stroke. Diam mematung, dan tidak lama tersadarkan oleh ajakan penjemput itu untuk begegas mengemasi peralatan sekolahnya.  “ayo bali, cepet beresi tasmu” saut penjemput itu. Akhirnya mereka bergegas pulang dan telah mendapati banyak orang dirumahnya. Sontak saja si kecil berlari kedalam rumahnya dan mendapati neneknya telah kaku diatas sebuah meja panjang dengan mengenakan kain putih. Tangis tidak lagi bisa dibendung, menambah haru diruangan sempit itu. 

Kini ia harus kehilangan neneknya, seorang yang mau mengasuhnya sejak kecil dulu. Rasa kehilangan yang begitu dalam. Masih ingat betul ketika sang nenek menatapnya ketika makan yang sesekali  nyletuk “ndelokke koe mangan kok le ndemenakke” (melihat kamu makan kok begitu menyenangkan) ya, ia pasti akan sangat merindukannya. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, siapa yang akan menyelimutinya disaat kedinginan tengah malam? Siapa yang akan buatkan ia sarapan? Siapa yang akan merawatnya jika sakit kelak? Hela  nafas panjangnya menandakan kekecewaan mendalam, bahwa esok ia tidak akan mungkin merasakan kasih sayangnya lagi. Nek, semoga engkau bahagia disana, cucumu disini merindukanmu, bisiknya. Riuh suara pelayat memudarkan lamunannya, tanda bahwa kain putih itu akan segera dikebumikan.
Kini hari-hari kedepan harus dilalui meski tanpa nenek dan ibunya. Kini ia terpaksa tinggal bersama bapak dan nenek sihirnya. Wanita dengan segala kepandainnya menyembuyikan kebenciannya terhadap anak tirinya. Sang kakak lebih memlih tinggal bersama kakeknya (bapak dari ibu). Kini si kecil harus pandai mengurus diri sampai urusan per-laundryan. Semakin lama mulai nampaklah kebosanan dengan keadaan keluarganya, bolos sekolah untuk pergi mancing, hingga tidak pulang rumah dengan numpang tidur dirumah teman menjadi hal lumrah. Hal itu kerap ia lakukan jika benar benar jenuh dengan lingkungan keluarganya. Hingga suatu waktu sang kakak mendengan kabar bahwa ia jarang pulang, maklum kakaknya wadulan. Suka mengadu jika nampak sedikit kejanggalan dari si kecil. Sayangnya itu tidak buatnya kapok. Si kecil kian menjadi. “Aku juga butuh perhatian”, dalam hati ia  berbisik. 

Kenakalan demi kenakalan silih berganti tiap harinya. Kini ia telah dewasa, seragam putih biru telah berganti dengan putih abu abu. SMA menjadi masa-masa kebebasan, bayangkan saja raport hasil belajar tidak pernah ada anggota keluarga yang mau mengambilkannya. Ia hanya sering nitip tetangga untuk mengambilkannya jika raport dibagikan oleh guru. Bapaknya pun tak pernah tau kapan ia ujian akhir semester atau waktu pegambilan raportnya.
 
Masa SMA bukanlah waktu yang mudah dilalui olehnya. Kebiasaan tidak pulang masih menjadi rutinitasnya, dengan alasan urusan organisasi disekolahnya yang memungkinkan harus diselesaikan segera. Menginap di tempat kost PPL atau tidur di sekolahan. Namun sedikit demi sedikit ia mulai menepi, menyadarkan diri bahwa semua yang dilakukannya selama itu adalah salah. Kelas 2 SMA menjadi tonggak setiap perubahan pada dirinya. Tahun dimana ia disibukkan dengan segala keorganisasian di sekolahnya. Tahun dimana ia mulai menunjukkan diri bahwa ia patut untuk diperhatikan. Peringkat 7 dari semua kelas IPS menjadi hal pertama bukti bahwa ia telah berubah menjadi lebih baik. Mulai dipercaya memimpin sebuah organisasi kepramukaan dan peringkat 4 di kelulusan SMAnya. Prestasi akademiknya tidak sampai disitu setelah kelulusan SMA ia sempat mengikuti program pelatihan kerja satu tahun di Jogja.

Kehidupan dijogja jauh dijogja lantas tidak membuatnya lupa diri, keseharian  menjadi waktu untuk merubah diri menjadi lebih baik. Peringkat 1 sebagai peserta terbaik jutusan Teknisi komputer. Tahun 2009 ia menamatkan studi tersebut  dan 8 bulan pendidikan ia telah berkerja di salah satu toko komputer dan service. Tak ingin menyiakan waktu ia banyak menyerap ilmu-ilmu dari siapa saja dan akhirnya tidak begitu lama berkerja ditempat tersebut ia diterima di perusahan berkembang saat itu dan kini menjabat sebagai senior technician dan masih menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.

Dan akhir kata, Alhamdulillah ya Allah. Engkau hadirkan kehidupan yang begitu berwarna ini. Entah apa yang akan terjadi jika ini semua tidak terjadi dalam kehidupanku, mungkin aku akan sama seperti mereka diluaran sana. Aku tau Engkau begitu mencintaiku, agar aku benar2 terlindung dari hal yang sia-sia. Membimbingku agar benar2 paham tentang keluarga yang menyenangkan  bagi tiap anggotanya. Aku berdoa Tuhan segerakan jodohku, biar mereka tau bahwa aku sanggup membangun keluarga yang bahagia seperti kehendakMU. Aamiin.. smile :)

Dongeng

|| || ,,, || Leave a komentar

Ini cerita masa lalu, di sautu tempat hiduplah seorang lelaki yang sibuk membangun masa depan yang elok untuk keluarganya kelak. Panggil saja lelaki ini Fulan. Tiada hari tanpa berusaha sepenuh hatinya memperbaiki diri dan berharap dipertemukan dengan pasangan yang baik, wanita yang sejalan dalam sikap dan tiap tutur katanya. Wanita yang melembutkan suaranya dihadapan suaminya, takdim terhadap perintah baik pasangannya dan mau membaik bersama hingga kematian memisahkan.

Cuaca saat itu cerah, tidak seperti biasa daerah dengan curah hujan tinggi, matahari begitu teriknya. Melangkah gontai fulan menyusuri tiap sudut perjalanan kehidupanya. Terkadang sejenak ia menepikan dirinya dari hiruk pikuk fatamorgananya kehidupan era modern saat itu. Sesekali mengadu, kepada empunya hidup. Mengutaran maksud baiknya agar dipertemukan dengan seseorang yang paham kondisi dan dapat menjawab tiap problem yang ia temui.

Suatu ketika dalam perjalanya ia dipertemukan dengan seorang kakek tua. Kakek tua bijaksana yang sangat paham tentang keluh kesah Fulan. Doanya terkabul, mungkin saja orang ini diutus olehNya untuk mengurai segala gundah dihatinya.

Masalah apa yang kamu hadapi “nang”, wajahmu begitu kusut seperti belum disetrika saja? “tanya kakek tua dengan nada menyindir”. Tersenyum saja fulan mendengar pertanyaan kakek tua tadi. Sepertinya ada masalah rumit yang ingin engkau perjelas, “katanya kembali”. Dalam fikirnya  masih ragu untuk menanyakan keluh kesahnya kepadanya. Maksud hati ingin menyelesaikan keruetan yang ada dibenak, nanti malah hanya buang cerita percuma, “bisik fulan dalam hati. “Ngene nang wong sing apik kui sejalan karo omangane ora ceplas ceplos tanpo tedeng aling aling ngomong tanpo dipikir. Pepatah jowo ngomong jatining diri gumantung ono ing lathi”. (Begini nang orang yang baik itu sejalan dengan apa yang ia ucapkan tidak ceplas ceplos tanpa batasan berbicara tanpa dipikir. Pepatah jawa mengatakan isinya diri bisa dilihat dari apa yang ia ucapkan). Fulan terkejut, ternyata kakek tua itu tau apa yang ada di pikirannya saat itu.

Beberapa hari yang lalu sebelum pertemuan dengan kakek tua ini banyak orang menjelaskan padanya bahwa kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan apa yang diucapkannya tapi juga harus melihat dari perilaku kehidupan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Ia masih ragu, tidak bisa dipungkiri bahwa itu juga benar adanya. Namun, apa daya yang berkata seperti itu juga bukan manusia sempurna. Terkadang kita sendiri begitu terobsesi bahwa apa yang kita yakini adalah benar dan menutup kemungkian lain untuk pencerahan, menemukan hal yang benar benar benar.

Ngalim, sok agamis, sok mengerti agama lalu melakukan perbuatan buruk itu wajar nang. Dia bukan alim, agamis dan mengerti agama mulane dadi koyo mangkono. Uwong sik alim (akeh ilmune), agamis lan ngerti tentang agomo iki mesti dalanne lurus. Sanajan kepleset iku manusiawi, wanito kui cobaan paling abot kanggo wong lanang seko jamanne nabi tekan sak iki. Mulane bentengi awakmu karo se jenenge fitnah wong wadon. (ngalim, sok agamis, sok mengerti agama lalu melakukan perbuatan buruk itu wajar nang. Dia bukan alim, agamis dan mengerti agama karena itu jadi seperti itu. Orang yang alim, agamis dan mengerti agama itu pasti jalannya lurus. Meskipun terpeleset itu manusiawi, wanita itu cobaan terberat untuk lelaki dari jaman nabi hingga sekarang. Karena itu bentengi dirimu dari yang namanya fitnah wanita). Wanita cerdas itu yang berperilaku dan bertutur kata yang baik. Karena itu ia tahu mana yang terbaik untuk dirinya dan orang lain. Jadi jika perilaku dan tutur katanya jelek, berarti ora cerdas. Yang lemah mata dan hatinya itu yang tutur kata dan perilakunya jelek. Karena apa? Dia bisa menilai orang lain, tapi tidak bisa menilai diri sendiri. Pesenku karo wong sing mengkono iku, perlu tak silihi koco? Dengan takdim fulan mendengarkan tiap detil apa yang disampaikan kakek tua ini. Seperti dukun saja kakek ini, belum sempat aku bertanya sudah menjelaskan panjang lebar apa yang ingin aku tanyakan,” bisik fulan dalam hati.

Tak terasa waktu itu telah berlalu begitu cepat, burung kembali kesarang. Langit kuning keemasan menggantung diufuk barat. Suasana indah menutup segala kegudahan yang ia rasakan saat itu. Semua tanya terjawab sudah. Dengan santun fulan mengucapkan banyak-banyak terimakasih, menatap detil lekuk garis wajah yang ada di hadapannya dan berpamit untuk melanjutkan perjalanannya.

Sekian.

NB: Nang adalah kata ganti yang biasa diucapkan untuk menyebut anak laki-laki dalam bahasa jawa.