Tampilkan postingan dengan label Anymore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anymore. Tampilkan semua postingan

Indahnya Kehidupan (Full)

|| || ,, || Leave a komentar
Hari mulai senja, para petani mulai kembali dari ladang setelah seharian bergelut dengan lumpur dan gatalnya persawahan. Berlomba, bergegas tiba lebih dahulu mendahulu gerimis yang kian membesar. Seorang anak kecil 3 tahunan didepan seorang nenek, ia nampak begitu riang menikmati indahnya ladang pedesaan yang hendak ditanami padi.

Hari itu menjadi hari yang berbeda dan mungkin spesial buat seorang suami yang sudah sekian lama tidak bertemu dengan istrinya. Terdengar kabar bahwa instrinya telah menunggunya dirumah setibanya ia dari Arab Saudi. Gerimis mulai reda, rumah sang buruh tani itu mulai ramai dengan riuh tetangga yang berdatangan. Riuh bahagia menyambut tetangganya yang telah sekian lama pergi merantau di negeri orang. Si kecil heran dan ketakutan, siapa gerangan wanita itu yang datang kerumahnya. Dengan dandanan yang bagus dan wangi. Si kecil bersembunyi dibalik neneknya. Wanita itu menghampirinya menanyakan kabar si kecil, memeluk dan menciuminya. Seketika sikecil meronta, menangis dan ketakutan. “Siapa wanita itu berani mencium dan memeluku erat? “, kata si kecil dalam hati.

Hari kian larut, suasana kian sayup. Senja pedesaan kian redup bergantikan hening dan pekatnya malam  kala itu yang masih langka listrik. Waktu berlalu dan malam berganti. Si kecil mulai paham bahwa wanita yang semalam memeluk dan menciumnya itu ialah ibunya. Wanita yang telah melahirkannya, wanita yang berjuang keras demi dia dan kakak perempuannya. Hari ini berbeda, ia menikmati keluarganya yang utuh bapak, ibu dan kakak. Suasana yang amat menyenangkan baginya. Tawa riang sering muncul dari mulut mungilnya. Indah dan pasti akan sangat mudah bagi siapa saja yang mengalaminya akan tetap merindukannya kelak. Sayang kebahagiaan itu hanya sesaat, sang ibu pasti akan segera kembali ke perantauannya.

Hari berganti minggu, minggu berganti dan seterusnya. Tiba saatnya si kecil berpisah kembali dengan wanita yang nampak asing dulu baginya. Hari perpisahan telah datang, nampak wajah murung di wajahnya. Terlukis jelas bahwa ia tidak rela, suasana keluarga, harum tubuh ibu dan kasih sayangnya yang akan amat sangat ia rindukan. Suasana haru pekat menyelemuti kedua orang tersebut. Telah tiba waktunya untuk berpisah kembali. Wanita itu memutuskan untuk kembali merantau, keadaan ekonomi kian sulit. Sang suami tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka sekeluarga.

Beberapa tahun berlalu. Si kecil telah  berumur 4 tahun, dan hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Bahagianya melebihi hari lebaran, baju baru, sepatu baru, tas baru, dan bahkan ia akan menemukan teman-teman baru, cukup untuk menghapus bayang rindunya akan wanita yang ia takuti beberapa tahun lalu. Belum lama ia tiba di sekolah dangan wajah polos ia berkata pada kakaknya “mbak ayo mulih?” (kak ayo pulang). Yah itulah hari pertamanya ia sekolah, maklum saja ia adalah murid termuda. Murid titipan karena saat itu belum ada TK negeri atau TK Islam, hanya ada TK Seruni (TK untuk Kristen). Si kecil harus belajar 1 tahun lebih lama dari temannya dan tanpa raport hasil studynya. Tidak ada apapun kecuali masuk dan belajar, karena statusnya ialah murid titipan meski sama-sama belajar dengan teman2nya.

Singkat cerita perekonomian keluarga si kecil kian memburuk, banyak terjadi cekcok dalam keluarganya. Pertengkaran antara anggota keluarga besarnya hampir mudah ditemui di kesehariannya. Saat itu adik dari ayahnya marah besar karena makanan yang tersedia didapur tidak memuaskannya. Tak sengaja ia lewat didepannya dan krumpyang… piring jatuh,namun lebih dulu telah mengenai pelipis keningnya. Menjadi luka yang tidak akan hilang hingga si kecil dewasa nanti. Darah mengucur, panik dan kawatir menjadi satu. Keluarganya ialah keluarga yang serba kekurangan, bahkan untuk mengobati lukanya tidak perlu dokter. Cukup kain bersih dan obat luka saja.“Ibu, hanya engkau saat ini yang aku butuhkan. Sayangmu yang akan mampu mengobati rasa perih luka ini”, khayalnya dalam hati. Waktu berjalan cepat, kelas satu sudah terlewat, tahap demi tahap jenjang SD terlampaui. Tiba di kelas 3 SD menjadi jenjang terberat bagi si keci, salah satunya ia harus melihat orang tuanya bercerai, orang tuanya telah memutuskan untuk berpisah. Hari hari terlihat berat tanpa ibunya, nakal mungkin menjadi hal wajar untuk mencari perhatian dari orang yang lebih tua di keluarganya. Pukulan demi pukulan menjadi hal yang biasa ia terima dari ayahnya, hadiah dari tiap kenakalannya. Keluarga kecilnya tidak lah harmonis, tidak juga dengan anggota keluarga besarnya.

Banyak hal yang akan berubah setelah berpisahnya orang tua mereka, ibu tiri yang seremnya mirip di sinetron–sinetron sampai neraka yang pindah ke bumi yang tiba-tiba hadir di keluarganya. Kehidupannya jauh untuk dikatakan sempurna, juga tidak bisa dikatakan bahagia. Ibu tiri yang membencinya menjadi santapan tiap kesehariannya. Lagi-lagi ibu, yang ia rindu. “Ingin rasanya dapat bertemu bercengkerama dalam peluknya” khayalnya lagi. Setahun yang lalu ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Andaikan si kecil telah pandai berbicara mungkin ia tidak akan mengijinkan ayahnya menikah dengan wanita itu. Bukan hal mudah karena perhatian ayahnya hilang, bahkan ibunya tidak kunjung pulang untuk sekedar menengoknya, melepaskan rindunya. 

Keluarga ialah tonggak dari pendidikan seorang anak, benar saja karena sebagian waktu sang anak ialah di lingkungan keluarga. Baik buruknya lingkungan keluarga akan mempengaruhi setiap pendidikan sosialnya. Waktu berlalu, tepat di kelas 4. Ibunya memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya Indonesia. Rasa bahagia sudah jelas terpancar diwajah manis si kecil. Namun, sayang kebahagian kecil itu terganggu oleh operasi amandel yang telah ia derita sejak ia kecil. Penyakit itulah yang sering buatnya sakit-sakitan dulu. Neneknyalah yang merawatnya sejak kecil. Si kecil memang lebih senang tinggal bersama neneknya ketimbang keluarganya. Keadaan seperti inilah yang membuat si kecil menjadi anak yang pendiam jarang bergaul dengan teman seumurannya. 

Tahun demi tahun berlalu kini ia harus lebih membiasakan diri mendewasa tanpa kasih sayang keluarga selayaknya anak-anak lain seumuranya. Kini ia sudah bukan murid SD lagi, ia memasuki lingkungan SMP dengan suasana dan teman baru yang berasal dari daerah yang berbeda-beda tentunya. Ia termasuk siswa yang pandai meski pandainya hanya 1 semester, si kecil pernah mendapat rangkin 2 dikelas. Namun sanyangnya itu hanya sekali dan disemester-semester berikutnya nol, alias tidak dapat peringkat sama sekali. Ia masih ingat betul dulu saat ia masih memakai seragam putih merah ibunya pulang dua kali yaitu kelas 2 dan 4. Kini SMP ia hanya bertemu sekali yaitu kelas 1. Kini menjadi hal yang biasa dan tidak istimewa lagi ketika ibunya pulang dari tanah rantau karena ia pasti pergi tidak lama lagi.

Kesusahan tidak kunjung pudar dari kehidupannya. Serasa satu hilang, datang satu lagi kesusahan yang lain. Waktu menunjukkan pukul 12, seseorang yang tidak asing dari kampungnya datang menghampirinya. Mengajaknya pulang, tidak banyak fikir ia menurut saja. Ia sudah bisa menebak pasti ada sesuatu dengan neneknya, neneknya telah dirawat di ICU beberapa hari karena stroke. Diam mematung, dan tidak lama tersadarkan oleh ajakan penjemput itu untuk begegas mengemasi peralatan sekolahnya.  “ayo bali, cepet beresi tasmu” saut penjemput itu. Akhirnya mereka bergegas pulang dan telah mendapati banyak orang dirumahnya. Sontak saja si kecil berlari kedalam rumahnya dan mendapati neneknya telah kaku diatas sebuah meja panjang dengan mengenakan kain putih. Tangis tidak lagi bisa dibendung, menambah haru diruangan sempit itu. 

Kini ia harus kehilangan neneknya, seorang yang mau mengasuhnya sejak kecil dulu. Rasa kehilangan yang begitu dalam. Masih ingat betul ketika sang nenek menatapnya ketika makan yang sesekali  nyletuk “ndelokke koe mangan kok le ndemenakke” (melihat kamu makan kok begitu menyenangkan) ya, ia pasti akan sangat merindukannya. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, siapa yang akan menyelimutinya disaat kedinginan tengah malam? Siapa yang akan buatkan ia sarapan? Siapa yang akan merawatnya jika sakit kelak? Hela  nafas panjangnya menandakan kekecewaan mendalam, bahwa esok ia tidak akan mungkin merasakan kasih sayangnya lagi. Nek, semoga engkau bahagia disana, cucumu disini merindukanmu, bisiknya. Riuh suara pelayat memudarkan lamunannya, tanda bahwa kain putih itu akan segera dikebumikan.
Kini hari-hari kedepan harus dilalui meski tanpa nenek dan ibunya. Kini ia terpaksa tinggal bersama bapak dan nenek sihirnya. Wanita dengan segala kepandainnya menyembuyikan kebenciannya terhadap anak tirinya. Sang kakak lebih memlih tinggal bersama kakeknya (bapak dari ibu). Kini si kecil harus pandai mengurus diri sampai urusan per-laundryan. Semakin lama mulai nampaklah kebosanan dengan keadaan keluarganya, bolos sekolah untuk pergi mancing, hingga tidak pulang rumah dengan numpang tidur dirumah teman menjadi hal lumrah. Hal itu kerap ia lakukan jika benar benar jenuh dengan lingkungan keluarganya. Hingga suatu waktu sang kakak mendengan kabar bahwa ia jarang pulang, maklum kakaknya wadulan. Suka mengadu jika nampak sedikit kejanggalan dari si kecil. Sayangnya itu tidak buatnya kapok. Si kecil kian menjadi. “Aku juga butuh perhatian”, dalam hati ia  berbisik. 

Kenakalan demi kenakalan silih berganti tiap harinya. Kini ia telah dewasa, seragam putih biru telah berganti dengan putih abu abu. SMA menjadi masa-masa kebebasan, bayangkan saja raport hasil belajar tidak pernah ada anggota keluarga yang mau mengambilkannya. Ia hanya sering nitip tetangga untuk mengambilkannya jika raport dibagikan oleh guru. Bapaknya pun tak pernah tau kapan ia ujian akhir semester atau waktu pegambilan raportnya.
 
Masa SMA bukanlah waktu yang mudah dilalui olehnya. Kebiasaan tidak pulang masih menjadi rutinitasnya, dengan alasan urusan organisasi disekolahnya yang memungkinkan harus diselesaikan segera. Menginap di tempat kost PPL atau tidur di sekolahan. Namun sedikit demi sedikit ia mulai menepi, menyadarkan diri bahwa semua yang dilakukannya selama itu adalah salah. Kelas 2 SMA menjadi tonggak setiap perubahan pada dirinya. Tahun dimana ia disibukkan dengan segala keorganisasian di sekolahnya. Tahun dimana ia mulai menunjukkan diri bahwa ia patut untuk diperhatikan. Peringkat 7 dari semua kelas IPS menjadi hal pertama bukti bahwa ia telah berubah menjadi lebih baik. Mulai dipercaya memimpin sebuah organisasi kepramukaan dan peringkat 4 di kelulusan SMAnya. Prestasi akademiknya tidak sampai disitu setelah kelulusan SMA ia sempat mengikuti program pelatihan kerja satu tahun di Jogja.

Kehidupan dijogja jauh dijogja lantas tidak membuatnya lupa diri, keseharian  menjadi waktu untuk merubah diri menjadi lebih baik. Peringkat 1 sebagai peserta terbaik jutusan Teknisi komputer. Tahun 2009 ia menamatkan studi tersebut  dan 8 bulan pendidikan ia telah berkerja di salah satu toko komputer dan service. Tak ingin menyiakan waktu ia banyak menyerap ilmu-ilmu dari siapa saja dan akhirnya tidak begitu lama berkerja ditempat tersebut ia diterima di perusahan berkembang saat itu dan kini menjabat sebagai senior technician dan masih menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.

Dan akhir kata, Alhamdulillah ya Allah. Engkau hadirkan kehidupan yang begitu berwarna ini. Entah apa yang akan terjadi jika ini semua tidak terjadi dalam kehidupanku, mungkin aku akan sama seperti mereka diluaran sana. Aku tau Engkau begitu mencintaiku, agar aku benar2 terlindung dari hal yang sia-sia. Membimbingku agar benar2 paham tentang keluarga yang menyenangkan  bagi tiap anggotanya. Aku berdoa Tuhan segerakan jodohku, biar mereka tau bahwa aku sanggup membangun keluarga yang bahagia seperti kehendakMU. Aamiin.. smile :)

Dongeng

|| || ,,, || Leave a komentar

Ini cerita masa lalu, di sautu tempat hiduplah seorang lelaki yang sibuk membangun masa depan yang elok untuk keluarganya kelak. Panggil saja lelaki ini Fulan. Tiada hari tanpa berusaha sepenuh hatinya memperbaiki diri dan berharap dipertemukan dengan pasangan yang baik, wanita yang sejalan dalam sikap dan tiap tutur katanya. Wanita yang melembutkan suaranya dihadapan suaminya, takdim terhadap perintah baik pasangannya dan mau membaik bersama hingga kematian memisahkan.

Cuaca saat itu cerah, tidak seperti biasa daerah dengan curah hujan tinggi, matahari begitu teriknya. Melangkah gontai fulan menyusuri tiap sudut perjalanan kehidupanya. Terkadang sejenak ia menepikan dirinya dari hiruk pikuk fatamorgananya kehidupan era modern saat itu. Sesekali mengadu, kepada empunya hidup. Mengutaran maksud baiknya agar dipertemukan dengan seseorang yang paham kondisi dan dapat menjawab tiap problem yang ia temui.

Suatu ketika dalam perjalanya ia dipertemukan dengan seorang kakek tua. Kakek tua bijaksana yang sangat paham tentang keluh kesah Fulan. Doanya terkabul, mungkin saja orang ini diutus olehNya untuk mengurai segala gundah dihatinya.

Masalah apa yang kamu hadapi “nang”, wajahmu begitu kusut seperti belum disetrika saja? “tanya kakek tua dengan nada menyindir”. Tersenyum saja fulan mendengar pertanyaan kakek tua tadi. Sepertinya ada masalah rumit yang ingin engkau perjelas, “katanya kembali”. Dalam fikirnya  masih ragu untuk menanyakan keluh kesahnya kepadanya. Maksud hati ingin menyelesaikan keruetan yang ada dibenak, nanti malah hanya buang cerita percuma, “bisik fulan dalam hati. “Ngene nang wong sing apik kui sejalan karo omangane ora ceplas ceplos tanpo tedeng aling aling ngomong tanpo dipikir. Pepatah jowo ngomong jatining diri gumantung ono ing lathi”. (Begini nang orang yang baik itu sejalan dengan apa yang ia ucapkan tidak ceplas ceplos tanpa batasan berbicara tanpa dipikir. Pepatah jawa mengatakan isinya diri bisa dilihat dari apa yang ia ucapkan). Fulan terkejut, ternyata kakek tua itu tau apa yang ada di pikirannya saat itu.

Beberapa hari yang lalu sebelum pertemuan dengan kakek tua ini banyak orang menjelaskan padanya bahwa kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan apa yang diucapkannya tapi juga harus melihat dari perilaku kehidupan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Ia masih ragu, tidak bisa dipungkiri bahwa itu juga benar adanya. Namun, apa daya yang berkata seperti itu juga bukan manusia sempurna. Terkadang kita sendiri begitu terobsesi bahwa apa yang kita yakini adalah benar dan menutup kemungkian lain untuk pencerahan, menemukan hal yang benar benar benar.

Ngalim, sok agamis, sok mengerti agama lalu melakukan perbuatan buruk itu wajar nang. Dia bukan alim, agamis dan mengerti agama mulane dadi koyo mangkono. Uwong sik alim (akeh ilmune), agamis lan ngerti tentang agomo iki mesti dalanne lurus. Sanajan kepleset iku manusiawi, wanito kui cobaan paling abot kanggo wong lanang seko jamanne nabi tekan sak iki. Mulane bentengi awakmu karo se jenenge fitnah wong wadon. (ngalim, sok agamis, sok mengerti agama lalu melakukan perbuatan buruk itu wajar nang. Dia bukan alim, agamis dan mengerti agama karena itu jadi seperti itu. Orang yang alim, agamis dan mengerti agama itu pasti jalannya lurus. Meskipun terpeleset itu manusiawi, wanita itu cobaan terberat untuk lelaki dari jaman nabi hingga sekarang. Karena itu bentengi dirimu dari yang namanya fitnah wanita). Wanita cerdas itu yang berperilaku dan bertutur kata yang baik. Karena itu ia tahu mana yang terbaik untuk dirinya dan orang lain. Jadi jika perilaku dan tutur katanya jelek, berarti ora cerdas. Yang lemah mata dan hatinya itu yang tutur kata dan perilakunya jelek. Karena apa? Dia bisa menilai orang lain, tapi tidak bisa menilai diri sendiri. Pesenku karo wong sing mengkono iku, perlu tak silihi koco? Dengan takdim fulan mendengarkan tiap detil apa yang disampaikan kakek tua ini. Seperti dukun saja kakek ini, belum sempat aku bertanya sudah menjelaskan panjang lebar apa yang ingin aku tanyakan,” bisik fulan dalam hati.

Tak terasa waktu itu telah berlalu begitu cepat, burung kembali kesarang. Langit kuning keemasan menggantung diufuk barat. Suasana indah menutup segala kegudahan yang ia rasakan saat itu. Semua tanya terjawab sudah. Dengan santun fulan mengucapkan banyak-banyak terimakasih, menatap detil lekuk garis wajah yang ada di hadapannya dan berpamit untuk melanjutkan perjalanannya.

Sekian.

NB: Nang adalah kata ganti yang biasa diucapkan untuk menyebut anak laki-laki dalam bahasa jawa.

Gambaranku Mengenai "Kesuksesan"

|| || ,, || Leave a komentar
Banyak definisi sukses yang beredar dimasyarakat antara lain yaitu, kepuasan, prestige, mempunyai harta yang banyak, deposito melimpah. Namun, ada pula yang mendefiniskan sukses adalah punya pekerjaan tetap dan penghasilan tetap. Tak heran status adalah hal penting dari orang tipe seperti ini. orang seperti ini biasanya takut dipecat dari pekerjaannya karena kan membuatnya menyandang title yang disebut pengangguran. Defini lain tentang sukses adalah jika mempunyai pendidikan tinggi tak peduli keadaan finansial yang selalu kekurangan. Baginya pendidikan adalah segala-galanya.

Lalu, apakah pemikiran-pemikiran tersebut salah? Saya juga kalian mungkin tidak menyalahkan pemikiran-pemikiran demikian itu salah. Namun, tampaknya kita perlu menilik definisi lain tentang arti sukses. Kita tidak bisa dikatakan sukses bila kita berusaha menjadi orang yang kita idolakan namun kita hanya akan menjadi tiruan dari mereka dan membatasi tiap-tiap kemungkian menjadi seorang yang lebih berarti bagi diri sendiri.
Okey..kita terkadang tidak menyadari bahwa kesuksesan yang telah kita capai dulu tidak lagi bisa dikatakan sukses bukan? Dulu kita sukses mendapat peringkat di kelas atau kita sukses meraih apa yang kita dan orang lain dambakan. Dan nyatanya sekarang tidak bisa dikatakan sebagai “kesuksesan” lagi di waktu saat ini yang peringkat dan kedudukan yang dulu kita capai tidak penting lagi untuk kita raih. Sampai di sini, apakah gambaran sukses itu telah terpetakan ulang dalam benak kita?

Gambaran tentang sukses tidaklah sama antara individu satu dengan yang lain karena kitapun diciptakan menjadi makhluk unik yang berbeda dari individu lain. Tetapi prosesnya sama bagi semua orang. Prosesnya dari prinsip-prinsip yang tidak berubah. Untuk memulai perjalanan menuju sukses kita perlu gambaran yang benar tentang sukses itu dan dasar yang benar untuk mencapainya. Untuk mencapai sukses kita tidak boleh terlalu memikirkan tujuannya namun jauh lebih baik jika kita memikirkan menjalani tiap-tiap prosesnya. Kehidupan adalah berproses, entah berproses untuk mencapai tujuan apa yang telah kita petakan di awal perjalan kita. Dan memfokuskan diri dalam perjalanan sukses manfaatnya adalah kita dapat memiliki potensi untuk sukses hari ini. saat anda membuat perubahan untuk menemukan tujuan, bertumbuh dalam kemampuan, dan menolong orang lain, kesuksesan adalah keadaan waktu sekarang (saat ini), bukan keadaan yang kita harapkan samar-samar terjadi pada suatu hari.

Sukses adalah mengetahui tujuan, bertumbuh untuk mencapai kemampuan hidup maksimal dan menabur benih untuk memberikan manfaat pada orang lain. Sukses adalah sebuah perjalanan dari sebuah tujuan. Ketika kita melihat kesuksesan adalah sebuah tujuan kita tidak akan pernah menemui masalah untuk mencoba “sampai” pada suatu tujuan akhir yang sukar untuk dicapai.

Bergitulah gambaran sukses yang saya percayai. Namun ada definini lain yang lebih saya yakini yaitu ketika aku kembali ke tempat tidur dalam perasaan yang bahagia. Lalu, apa gambaran suksesmu? Smile:)

Beternak Semut Rang-rang

|| || ,, || Leave a komentar
 Bibit semut kroto alias semut rang-rang menjadi primadona disepanjang tahun 2012-2013, baik itu bibit dari peternak maupun bibit dari alam. Karena begitu besarnya rasa penasaran masyarakat yang ingin beternak semut rang-rang yang konon hasilnya sangat menggiurkan.
Bibit semut toples sangat berkaitan dengan bibit dari alam, jarang peternak yang bisa menjadi peternak semut mandiri alias tidak tergantung alam dengan berinovasi sendiri.

Dengan CD Tutorial ini sesorang bisa mempelajari tehnik budidaya semut rang-rang sama dengan pelatihan langsung, karena CD ini sangat detail dan lebih banyak gambar yang mendukung untuk memperjelas pelatihan didalamnya.

Untuk informasi harga dan pemesanan :
HP     : 0857-2172-3767
BBM : 7510C29C

Cinta (tidak) Harus Memiliki

|| || ,, || 3 komentar
Motivasi siang? Bukan, ini malam guys. Kali ini saya mengajak anda untuk berdiskusi logika. Pemikiran yang sering digunakan oleh pria. Gue pria apa bukan? Bukan, aku laki-laki yang akan menjadi pria 2 tahun yang akan datang dengan menyunting seorang wanita. huahahaha.. Ok deh, tidak ada motivasi siang untuk hari ini. Yuk caoo..

Ini tentang pandanganku, siapapun boleh tidak menyutujuinya atau sepakat dengan pemikiranku. Ini tentang cinta yang kata orang cemburu adalah bukti bahwa cinta harus memiliki. Dan kali ini saya sepakat dengan pemikiran itu. Ok, boleh kalian menyangkal. Tapi tahan dulu, dan sempatkan untuk terus membaca tulisan ini hingga selesai. Sayang jika hanya karena kalian tidak setuju lantas menghakimi saya bahwa saya ini kolot dan tidak mempunyai pandangan yang sama terhadap anda terus menghentikan untuk menyempatkan membuka pemahan baru bersama.

Terlebih dulu apa cinta dan sayang itu berbeda? Jika tidak bisa menjelaskan keduanya jangan pernah mengatakan itu berbeda itu aturannya. Kita tidak mungkin mengatakan sesuatu itu berbeda tanpa ada perbandingan. Dan untuk membandingkan kita perlu perbedaan, betul? Dan sekali lagi perbedaan yang membuat tulisan ini hadir. Ok cukup basa basinya. “cinta tidak harus memiliki atau cinta harus memiliki?” tulisan ini tentang perbedaan. Jadi akan menjadi benar adanya jika kita mempunyai perbedaan pemahaman, jika saya berpendapat bahwa cinta harus memiliki anda boleh mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki. Lalu..

    Cinta harus memiliki” karena itu cemburu itu hadir. Terlihat munafik bukan?

    Apa yang anda cintai jika tidak pernah menginginkannya? Bayangnya?

    Apa yang anda cintai bila anda tidak memilikinya? Kenangannya?

    Apa yang buat anda bahagia ketika ia lebih memilih orang lain yang ia cintai?

Anda lebih mencintai untuk membohongi diri sendiri ketimbang membuat ia bahagia dengan tanganmu sendiri di sampingnya, apa anda tidak sanggup melakukannya?
 
Aku yakin anda dan juga kita mampu untuk melakukannya, lalu kenapa menyangkal bahwa cinta tidak harus memiliki?

Kita itu munafik, dalam cinta juga begitu. Kita bilang: aku bahagia engkau bersama orang lain, aku rela melepasmu agar engkau bahagia, aku ikut tersenyum jika engkau bahagia dengan orang yang engkau cintai. Jujurlah, anda sangat menginginkan posisi orang yang ia cintai. Jika Tuhan menyuruhmu bertukar posisi, saya yakin dengan senang hati engkau akan melakukannya. Bukankah itu sebuah bukti cinta harus memiliki?

Datang dengan perbedaan, dan begitu juga berakhir karena perbedaan. Smile :)

Memaafkan itu Sesuatu

|| || || Leave a komentar
 MEMAAFKAN adalah tatkala kita SEDANG merasa DISAKITI. Karena pada saat kita sedang disakiti , biasanya semua hal tentang : rasa sakitnya, pelakunya, peristiwanya, penyebabnya, waktu kejadiannya dan persepsi kita atas itu semua ; masihlah SANGAT JELAS. Ibarat orang BAB, maka saat paling tepat untuk BAB adalah ketika sangat JELAS rasa sakit di perut kita (mules).hehe..
Indahnya memaafkan | Mungkin  sering kita mendengar kata maaf dari teman atau kita sendiri yang meminta maaf unutk orang lain. Tapi dengan kenyataan seperti diatas apakah kita bisa atau mungkin pernah memaafkan diri sendiri? Sebenarnya seberapa penting sih memaafkan? Mari kita bahas.

Sebetulnya memaafkan itu sangat penting juga bagi tubuh kita. Lho kok bisa? Gini lho, rasa tidak senang, dendam, benci itu sama aja dengan kotoran yang ada diperut kita cuma beda tempat yaitu "dihati". Bayangkan jika selama satu bulan Anda tidak BAB, tidak melepaskan kotoran dari perut Anda, apa yang akan  terjadi? Nah bayangkan juga jika Anda sudah satu bulan memendam kebencian terhadap seseorang, memendam kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan, apakah yang akan terjadi dalam Jiwa Anda?

Sekarang kapan waktu paling optimal untuk memaafkan. Waktu yang paling tepat untuk MEMAAFKAN adalah tatkala kita SEDANG merasa DISAKITI. Karena pada saat kita sedang disakiti , biasanya semua hal tentang : rasa sakitnya, pelakunya, peristiwanya, penyebabnya, waktu kejadiannya dan persepsi kita atas itu semua ; masihlah SANGAT JELAS. Ibarat orang BAB, maka saat paling tepat untuk BAB adalah ketika sangat JELAS rasa sakit di perut kita (mules).hehe..

Lalu bagaimana dengan orang yang menunda-nunda memaafkan, ya sama saja seperti kita menahan sesesuatu disaat kita sedang mules. Bayangkan betapa menderitanya diri kita, #ehh jangan dibayangin ndink..haha.. Terus sama saja kita bilang, "nanti aja lah lo perutku sudah ndak mules"..wkwkkk konyol kan?

"Memang memaafkan itu tidak akan mengubah sesuatu yang sudah terjadi, tapi akan mengubah masa depan menjadi lebih baik." Lalu apa alasan kamu untuk tidak memaafkan. Bukankah Allah SWT saja Maha Memaafkan? Padahal Ia Maha Suci yang tidak pernah berbuat salah. Dan pastilah kita tidak pernah luput dari dosa ataupun kesalahan. Namun anehnya masih juga ada yang bilang seperti ini. "Kapok saya memaafkan dia? ndak lagi-lagi dah. air susu kok dibalas air tuba dan bla bla bla" 

ehh..ada yang terlewat, apa sih manfaatnya kita jadi seorang yang pemaaf. Salah satunya ialah mengundang ampunan Allah atas kesalahan kita. Jika kita ingin diampuni dosa-dosa kita oleh Allah, maka belajarlah untuk mema’afkan kesalahan orang-orang yang telah membuat kita kecewa. Semakin kita tidak mema’afkannya maka semakin jauh kita dari ampunan Allah, sehingga semakin terzalimilah diri kita, dan semakin menumpuklah dosa kita, dan semakin besarlah peluang kita masuk ke dalam neraka, na’udzubillahi min dzalik.

Berdasarkan penelitian memaafkan mengudang kesehatan jiwa dan raga. Semakin rutin seseorang itu mema’afkan, maka semakin bersih hatinya, maka semakin sehatlah jasadnya. Sehingga pantas saja jika Rosulullah saw bersabda “Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Dan jika ia jelek, maka jelek pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah Qolbu. (H.R. Bukhori dan Muslim)“

Dan satu lagi yang ajib eh ajaib, selain yang disebutkan diatas orang yang telah berbuat dzolim kepada kita akan enggan untuk mengulangi kedzoliman terhadap kita lagi. Misalkan hari ini anda didzolimi berulang-ulang dalam sehari oleh orang lain, lalu maafkanlah dengan sepenuh hati lalu lihat apa yang akan terjadi.*pake gaya pak Mario* hahaa..

Namun jangan samakan memaafkan dengan melupakan ya? Karena melupakan berbeda dengan memaafkan. Mungkin kita telah melupakan semua kesalahan orang lain terhadap diri kita, tapi dihati yang paling dalam kita masih belum bisa melupakan. Cara membedakannya cukup kamu ingat apa kesalahan mereka atau mungkin saat kita hadirkan pelakunya dihadan kita, jika masih jengkel atau marah kepadanya berarti kita belum sepenuhnya memaafkan. Hadirkanlah semua kesalahan yang belum termaafkan, hadirkan semua tentangnya, waktu, pelaku dan apa kesalahannya. Dan maafkanlah dengan sempurna.

Memaafkan tidak akan mengubah sesuatu dimasa lalu, tapi memaafkan akan mempercantik kehidupan kita sekarang dan yang akan datang.hehe..
Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya akan pentingnya memaafkan. Belajar dari tulisan Kang Zain (Spiritual Sinergi Semesta) dan semoga berguna untuk teman semua.

MANUSIA BIASA

|| || || Leave a komentar

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.

Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.

Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.

"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan lampu taman.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari duduknya sambil meraih HP disaku bajunya. Ia masuk dalam kamar berlahan dia membuka laci meja riasnya dan kembali ke taman lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas.

"Beuuuhhh dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara di Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada Yth
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik adik saya
Ditempat

Assalamu'alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama...... menginginkan anda...... untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istikharoh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istikharoh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin.

Wassalamu'alaikum wr wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.

Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa."

Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."

"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita ngobrol rahasia. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

"Udah tidur sana. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama."
Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam."
Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
* * *
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel embel predikat diri yang selama ini mereka ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran soko kulino, kalau diterjemahkan secara bebas: "Cinta tumbuh karena terbiasa bersama."