Indahnya Kehidupan (Full)

|| || ,, || Leave a comments
Hari mulai senja, para petani mulai kembali dari ladang setelah seharian bergelut dengan lumpur dan gatalnya persawahan. Berlomba, bergegas tiba lebih dahulu mendahulu gerimis yang kian membesar. Seorang anak kecil 3 tahunan didepan seorang nenek, ia nampak begitu riang menikmati indahnya ladang pedesaan yang hendak ditanami padi.

Hari itu menjadi hari yang berbeda dan mungkin spesial buat seorang suami yang sudah sekian lama tidak bertemu dengan istrinya. Terdengar kabar bahwa instrinya telah menunggunya dirumah setibanya ia dari Arab Saudi. Gerimis mulai reda, rumah sang buruh tani itu mulai ramai dengan riuh tetangga yang berdatangan. Riuh bahagia menyambut tetangganya yang telah sekian lama pergi merantau di negeri orang. Si kecil heran dan ketakutan, siapa gerangan wanita itu yang datang kerumahnya. Dengan dandanan yang bagus dan wangi. Si kecil bersembunyi dibalik neneknya. Wanita itu menghampirinya menanyakan kabar si kecil, memeluk dan menciuminya. Seketika sikecil meronta, menangis dan ketakutan. “Siapa wanita itu berani mencium dan memeluku erat? “, kata si kecil dalam hati.

Hari kian larut, suasana kian sayup. Senja pedesaan kian redup bergantikan hening dan pekatnya malam  kala itu yang masih langka listrik. Waktu berlalu dan malam berganti. Si kecil mulai paham bahwa wanita yang semalam memeluk dan menciumnya itu ialah ibunya. Wanita yang telah melahirkannya, wanita yang berjuang keras demi dia dan kakak perempuannya. Hari ini berbeda, ia menikmati keluarganya yang utuh bapak, ibu dan kakak. Suasana yang amat menyenangkan baginya. Tawa riang sering muncul dari mulut mungilnya. Indah dan pasti akan sangat mudah bagi siapa saja yang mengalaminya akan tetap merindukannya kelak. Sayang kebahagiaan itu hanya sesaat, sang ibu pasti akan segera kembali ke perantauannya.

Hari berganti minggu, minggu berganti dan seterusnya. Tiba saatnya si kecil berpisah kembali dengan wanita yang nampak asing dulu baginya. Hari perpisahan telah datang, nampak wajah murung di wajahnya. Terlukis jelas bahwa ia tidak rela, suasana keluarga, harum tubuh ibu dan kasih sayangnya yang akan amat sangat ia rindukan. Suasana haru pekat menyelemuti kedua orang tersebut. Telah tiba waktunya untuk berpisah kembali. Wanita itu memutuskan untuk kembali merantau, keadaan ekonomi kian sulit. Sang suami tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka sekeluarga.

Beberapa tahun berlalu. Si kecil telah  berumur 4 tahun, dan hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Bahagianya melebihi hari lebaran, baju baru, sepatu baru, tas baru, dan bahkan ia akan menemukan teman-teman baru, cukup untuk menghapus bayang rindunya akan wanita yang ia takuti beberapa tahun lalu. Belum lama ia tiba di sekolah dangan wajah polos ia berkata pada kakaknya “mbak ayo mulih?” (kak ayo pulang). Yah itulah hari pertamanya ia sekolah, maklum saja ia adalah murid termuda. Murid titipan karena saat itu belum ada TK negeri atau TK Islam, hanya ada TK Seruni (TK untuk Kristen). Si kecil harus belajar 1 tahun lebih lama dari temannya dan tanpa raport hasil studynya. Tidak ada apapun kecuali masuk dan belajar, karena statusnya ialah murid titipan meski sama-sama belajar dengan teman2nya.

Singkat cerita perekonomian keluarga si kecil kian memburuk, banyak terjadi cekcok dalam keluarganya. Pertengkaran antara anggota keluarga besarnya hampir mudah ditemui di kesehariannya. Saat itu adik dari ayahnya marah besar karena makanan yang tersedia didapur tidak memuaskannya. Tak sengaja ia lewat didepannya dan krumpyang… piring jatuh,namun lebih dulu telah mengenai pelipis keningnya. Menjadi luka yang tidak akan hilang hingga si kecil dewasa nanti. Darah mengucur, panik dan kawatir menjadi satu. Keluarganya ialah keluarga yang serba kekurangan, bahkan untuk mengobati lukanya tidak perlu dokter. Cukup kain bersih dan obat luka saja.“Ibu, hanya engkau saat ini yang aku butuhkan. Sayangmu yang akan mampu mengobati rasa perih luka ini”, khayalnya dalam hati. Waktu berjalan cepat, kelas satu sudah terlewat, tahap demi tahap jenjang SD terlampaui. Tiba di kelas 3 SD menjadi jenjang terberat bagi si keci, salah satunya ia harus melihat orang tuanya bercerai, orang tuanya telah memutuskan untuk berpisah. Hari hari terlihat berat tanpa ibunya, nakal mungkin menjadi hal wajar untuk mencari perhatian dari orang yang lebih tua di keluarganya. Pukulan demi pukulan menjadi hal yang biasa ia terima dari ayahnya, hadiah dari tiap kenakalannya. Keluarga kecilnya tidak lah harmonis, tidak juga dengan anggota keluarga besarnya.

Banyak hal yang akan berubah setelah berpisahnya orang tua mereka, ibu tiri yang seremnya mirip di sinetron–sinetron sampai neraka yang pindah ke bumi yang tiba-tiba hadir di keluarganya. Kehidupannya jauh untuk dikatakan sempurna, juga tidak bisa dikatakan bahagia. Ibu tiri yang membencinya menjadi santapan tiap kesehariannya. Lagi-lagi ibu, yang ia rindu. “Ingin rasanya dapat bertemu bercengkerama dalam peluknya” khayalnya lagi. Setahun yang lalu ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Andaikan si kecil telah pandai berbicara mungkin ia tidak akan mengijinkan ayahnya menikah dengan wanita itu. Bukan hal mudah karena perhatian ayahnya hilang, bahkan ibunya tidak kunjung pulang untuk sekedar menengoknya, melepaskan rindunya. 

Keluarga ialah tonggak dari pendidikan seorang anak, benar saja karena sebagian waktu sang anak ialah di lingkungan keluarga. Baik buruknya lingkungan keluarga akan mempengaruhi setiap pendidikan sosialnya. Waktu berlalu, tepat di kelas 4. Ibunya memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya Indonesia. Rasa bahagia sudah jelas terpancar diwajah manis si kecil. Namun, sayang kebahagian kecil itu terganggu oleh operasi amandel yang telah ia derita sejak ia kecil. Penyakit itulah yang sering buatnya sakit-sakitan dulu. Neneknyalah yang merawatnya sejak kecil. Si kecil memang lebih senang tinggal bersama neneknya ketimbang keluarganya. Keadaan seperti inilah yang membuat si kecil menjadi anak yang pendiam jarang bergaul dengan teman seumurannya. 

Tahun demi tahun berlalu kini ia harus lebih membiasakan diri mendewasa tanpa kasih sayang keluarga selayaknya anak-anak lain seumuranya. Kini ia sudah bukan murid SD lagi, ia memasuki lingkungan SMP dengan suasana dan teman baru yang berasal dari daerah yang berbeda-beda tentunya. Ia termasuk siswa yang pandai meski pandainya hanya 1 semester, si kecil pernah mendapat rangkin 2 dikelas. Namun sanyangnya itu hanya sekali dan disemester-semester berikutnya nol, alias tidak dapat peringkat sama sekali. Ia masih ingat betul dulu saat ia masih memakai seragam putih merah ibunya pulang dua kali yaitu kelas 2 dan 4. Kini SMP ia hanya bertemu sekali yaitu kelas 1. Kini menjadi hal yang biasa dan tidak istimewa lagi ketika ibunya pulang dari tanah rantau karena ia pasti pergi tidak lama lagi.

Kesusahan tidak kunjung pudar dari kehidupannya. Serasa satu hilang, datang satu lagi kesusahan yang lain. Waktu menunjukkan pukul 12, seseorang yang tidak asing dari kampungnya datang menghampirinya. Mengajaknya pulang, tidak banyak fikir ia menurut saja. Ia sudah bisa menebak pasti ada sesuatu dengan neneknya, neneknya telah dirawat di ICU beberapa hari karena stroke. Diam mematung, dan tidak lama tersadarkan oleh ajakan penjemput itu untuk begegas mengemasi peralatan sekolahnya.  “ayo bali, cepet beresi tasmu” saut penjemput itu. Akhirnya mereka bergegas pulang dan telah mendapati banyak orang dirumahnya. Sontak saja si kecil berlari kedalam rumahnya dan mendapati neneknya telah kaku diatas sebuah meja panjang dengan mengenakan kain putih. Tangis tidak lagi bisa dibendung, menambah haru diruangan sempit itu. 

Kini ia harus kehilangan neneknya, seorang yang mau mengasuhnya sejak kecil dulu. Rasa kehilangan yang begitu dalam. Masih ingat betul ketika sang nenek menatapnya ketika makan yang sesekali  nyletuk “ndelokke koe mangan kok le ndemenakke” (melihat kamu makan kok begitu menyenangkan) ya, ia pasti akan sangat merindukannya. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, siapa yang akan menyelimutinya disaat kedinginan tengah malam? Siapa yang akan buatkan ia sarapan? Siapa yang akan merawatnya jika sakit kelak? Hela  nafas panjangnya menandakan kekecewaan mendalam, bahwa esok ia tidak akan mungkin merasakan kasih sayangnya lagi. Nek, semoga engkau bahagia disana, cucumu disini merindukanmu, bisiknya. Riuh suara pelayat memudarkan lamunannya, tanda bahwa kain putih itu akan segera dikebumikan.
Kini hari-hari kedepan harus dilalui meski tanpa nenek dan ibunya. Kini ia terpaksa tinggal bersama bapak dan nenek sihirnya. Wanita dengan segala kepandainnya menyembuyikan kebenciannya terhadap anak tirinya. Sang kakak lebih memlih tinggal bersama kakeknya (bapak dari ibu). Kini si kecil harus pandai mengurus diri sampai urusan per-laundryan. Semakin lama mulai nampaklah kebosanan dengan keadaan keluarganya, bolos sekolah untuk pergi mancing, hingga tidak pulang rumah dengan numpang tidur dirumah teman menjadi hal lumrah. Hal itu kerap ia lakukan jika benar benar jenuh dengan lingkungan keluarganya. Hingga suatu waktu sang kakak mendengan kabar bahwa ia jarang pulang, maklum kakaknya wadulan. Suka mengadu jika nampak sedikit kejanggalan dari si kecil. Sayangnya itu tidak buatnya kapok. Si kecil kian menjadi. “Aku juga butuh perhatian”, dalam hati ia  berbisik. 

Kenakalan demi kenakalan silih berganti tiap harinya. Kini ia telah dewasa, seragam putih biru telah berganti dengan putih abu abu. SMA menjadi masa-masa kebebasan, bayangkan saja raport hasil belajar tidak pernah ada anggota keluarga yang mau mengambilkannya. Ia hanya sering nitip tetangga untuk mengambilkannya jika raport dibagikan oleh guru. Bapaknya pun tak pernah tau kapan ia ujian akhir semester atau waktu pegambilan raportnya.
 
Masa SMA bukanlah waktu yang mudah dilalui olehnya. Kebiasaan tidak pulang masih menjadi rutinitasnya, dengan alasan urusan organisasi disekolahnya yang memungkinkan harus diselesaikan segera. Menginap di tempat kost PPL atau tidur di sekolahan. Namun sedikit demi sedikit ia mulai menepi, menyadarkan diri bahwa semua yang dilakukannya selama itu adalah salah. Kelas 2 SMA menjadi tonggak setiap perubahan pada dirinya. Tahun dimana ia disibukkan dengan segala keorganisasian di sekolahnya. Tahun dimana ia mulai menunjukkan diri bahwa ia patut untuk diperhatikan. Peringkat 7 dari semua kelas IPS menjadi hal pertama bukti bahwa ia telah berubah menjadi lebih baik. Mulai dipercaya memimpin sebuah organisasi kepramukaan dan peringkat 4 di kelulusan SMAnya. Prestasi akademiknya tidak sampai disitu setelah kelulusan SMA ia sempat mengikuti program pelatihan kerja satu tahun di Jogja.

Kehidupan dijogja jauh dijogja lantas tidak membuatnya lupa diri, keseharian  menjadi waktu untuk merubah diri menjadi lebih baik. Peringkat 1 sebagai peserta terbaik jutusan Teknisi komputer. Tahun 2009 ia menamatkan studi tersebut  dan 8 bulan pendidikan ia telah berkerja di salah satu toko komputer dan service. Tak ingin menyiakan waktu ia banyak menyerap ilmu-ilmu dari siapa saja dan akhirnya tidak begitu lama berkerja ditempat tersebut ia diterima di perusahan berkembang saat itu dan kini menjabat sebagai senior technician dan masih menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.

Dan akhir kata, Alhamdulillah ya Allah. Engkau hadirkan kehidupan yang begitu berwarna ini. Entah apa yang akan terjadi jika ini semua tidak terjadi dalam kehidupanku, mungkin aku akan sama seperti mereka diluaran sana. Aku tau Engkau begitu mencintaiku, agar aku benar2 terlindung dari hal yang sia-sia. Membimbingku agar benar2 paham tentang keluarga yang menyenangkan  bagi tiap anggotanya. Aku berdoa Tuhan segerakan jodohku, biar mereka tau bahwa aku sanggup membangun keluarga yang bahagia seperti kehendakMU. Aamiin.. smile :)
/[ 0 comments Untuk Artikel Indahnya Kehidupan (Full)]\

Post a Comment